Capres Bicara, Debat Capres
Rasa-rasanya topik tentang pemilu memang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Hampir setiap stasiun televisi dan bahkan mungkin semua media komunikasi sibuk mencari berita terpanas seputar pemilihan presiden dan wakilnya. Seperti malam ini, saya yakin hampir 95% pemirsa televisi menyempatkan diri melihat perdebatan yang terjadi dan memang merupakan bagian dari rangkaian pemilu tanggal 8 Juli mendatang. Pasti dari 95% penonton tersebut rela mengganti acara kesukaannya demi menonton para Capres yang beradu argumentasi.
Tapi menurut pendapat saya pribadi, acara malam ini lebih cocok jika dikatakan uraian visi misi pribadi Capres dibandingkan dengan sebutan debat Capres. Sebab dari awal para kandidat Capres hanya diberi pertanyaan yang harus ia jawab, dan secara bergantian mendapat giliran untuk memberi tanggapan. Bukankah kalau debat itu saling memberi komentar, saran atau bahkan kritikan atas apa yang diungkapkan kompetitor lainnya. Secara umum, acara seperti ini memang sangat diperlukan agar kita benar-benar kenal dengan para calon pemimpin kita. Meskipun tidak 100% kita mengenal mereka dengan melihat dan memperhatikan statement-statement beserta komitmentnya paling tidak kita mengetahui dan dapat memprediksi cara pandang, cara kerja mereka di masa mendatang. Semoga siapapun nanti yang menjadi pemimpin negara ini benar-benar berkomitmen tinggi demi kemakmuran rakyat.
Jika dilihat dari hasil polling yang diadakan di TV Pemilu yakni stasiun televisi TV One pasangan Capres SBY-Boediono memperoleh lebih dari 50% pengirim sms. Sedangkan kedua pasangan yang lain memperoleh hasil polling yang jauh di bawah SBY-Boediono. Apakah ini sudah menjadi cerminan siapa pemenang pemilu mendatang? Kita lihat saja nanti. Saya pribadi berharap pemilu dilaksanakan sekali putaran saja, sehingga dana pemerintah tidak terkuras hanya untuk hal-hal seperti ini. Bayangkan saja setiap 5 tahun puluhan milyar dana terkuras hanya untuk pelaksanaan pemilu. Belum lagi pilda, dan berbagai macam pemilihan kepada daerah lainnya. Kenapa tidak memberi kesempatan dua periode untuk masa jabatan para kepala daerah atau pemimpin. Tapi itu semua kan sudah ada yang mengatur, harapan kita sebagai rakyat aturan yang sudah dibuat hendaknya dijalankan dengan benar sehingga kepentingan rakyat dijadikan prioritas utama.





pilpres cukup satu putaran saja dengan memilih calon yang sudah pasti SBY-Budiono
ada yang lihat ga polling sms debat capres di tvone untuk kolom megawati yang sempat 15,…% kemudian di akhir acara menjadi 13,…%???
satu putaran kalau bisa, supaya tidak banyak pemborosan uang negara, tapi pelaksanaannya harus jujur, bersih , adil dan KPU bekerja lebih baik. Tidak ada komplain DPT. Dananya bisa digunakan untuk pembangunan bangsa, ciptakan lapangan kerja,bangun infrastruktur, tambah pembelian alutsista, dan bersihkan korupsi, tegakkan keadilan. Bagi cawapres yang bermasalah dengan HAM, orang hilang dan kasus Mei trisakti supaya diusut tuntas. Keadilan harus diberikan pada keluarga korban. SBY-Budiono masih yang terbaik saat ini.
Sependapt bahwa kemungkinan pemilu bisa satu kali putaran. Sebagaimana yang dihasilkan pada poling di TV, biarpun hal ini belum menjadikan pertanda siapa yang menang dan yang kalah dalam pemilu, tapi setidaknya bisa menggambarkan sebagian kondisi pemirsa (Hasil polling Metro TV dan TVOne SBY yang unggul > 50%)
Sedangkan komentar dari Sdr Agung bisa saja hal itu terjadi perubahan karena pada saat itu hasilnya belum masuk semuanya dan masih dalam proses komputer.
Debat capres ini memang memberikan peluang akan terjadi debat kuat dan lemah. Jadi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana masing2 Capres dapat memanfaatkan momentun ini atau bagaimana moderator mengaturnya.
Satu lagi yang perlu kita cemati adalah budaya kita dan kondisi yang diperdebatkan masing2 calon sudah memahami dan pola pikirnya sama, Jadi hasilnya ya begitulah. Kata Bang Bawasdan,Siapa sih Capres yang ngak pro rakyat?siapa sih capres yang ngak mau melanjutkan keberhasilan bangsa kita dan siapasih capres yang ngak mau bekerja lebih cepat dan lebih baik? kan sama saja ya.